Minggu, 18 Desember 2011

Apa khabar, tante?

Raut wajahmu tak lagi kuingat,
Namun beberapa hal tentangmu masih ada dalam ingatanku.
Saat kau mengenakan baju hitam dengan pita warna putih di lenganmu,
di hari pemakaman suamimu.

Wajahmu khas wajah peranakan,
Dan rasanya aku tak merisaukannya.
Matamu persis seperti mataku,
sehingga aku tak merasakan adanya perbedaan.

Aku tak terlalu mengenalmu secara pribadi,
Namun kau cukup dekat denganku,
karena seseorang sering menceritakanmu kepadaku.
Seseorang yang sangat mengasihimu.

Kini, aku mendengar suaramu di telingaku.
Suara seorang ibu yang ramah,
yang menanyakan kabarku,
setelah puluhan tahun tak bertemu.

Apa khabar, tante?
Dari nadamu yang riang, aku tahu kau baik-baik saja.
Aku senang mengetahuinya,
Mengetahui kenyataan bahwa kau masih mengingatku.

Andai saja kita punya lebih banyak waktu untuk bersama..
Tentu aku dapat mengenalmu lebih dekat.
Kita mungkin dapat menemukan kecocokan di antara kita,
Karena kita berdua dikasihi oleh orang yang sama.

Namun sayangnya, aku tak pernah memiliki cukup waktu.
Aku berharap puteramu telah menceritakan semua hal tentangku kepadamu.
Dan aku berharap hanya hal baik yang diceritakannya.
Sehingga kau pun dapat menyukaiku.

Apa khabar, tante?
Kuharap kau bahagia di hari tuamu.
Dan kuharap percakapan kita dapat menyenangkan hatimu.
Terima kasih karena telah menghubungiku dan mengetahui keadaanmu.**

Seperti layang-layang

Ketika 'ku berharap kau meneleponku,
Justru tak pernah ada panggilan darimu,
Tak pernah sekali pun nomormu muncul dalam ponselku.
Hanya harapan kosong belaka.

Ketika 'ku berharap kau meneleponku,
sebenarnya aku ingin mendengar suaramu,
Ingin menyapamu,
Ingin bercerita tentang banyak hal kepadamu.

Tapi harapan tinggallah harapan.
Karena kau tak pernah menghubungiku.
Kau tak pernah menjawab panggilan dariku.
Kau pun tak pernah menjawab pesan-pesanku.

Namun ketika aku tak mengharapkanmu lagi,
Kau justru menghubungiku..!
Menyapaku begitu ringan,
Seakan-akan tak ada sesuatu pun yang terjadi.

Sungguh, aku tak mengerti apa maksudmu.
Kau sengaja menghindar berbulan-bulan lamanya,
Membiarkanku bertanya-tanya..
Dan tiba-tiba muncul begitu saja!

Lalu ketika aku mulai mendekat,
Kau mengulurkan kembali 'benang' itu,
Membiarkan perasaanku melayang-layang tanpa arah..
Dan melepasku begitu saja!

Apakah ini semacam permainan bagimu?
Apakah perasaanku seperti layang-layang untukmu?
Kau dapat menariknya, mengulurnya lalu melepaskannya?
Bagaimana mungkin kau bisa setega itu? **

Senin, 12 Desember 2011

Lihatlah dirimu

Lihatlah dirimu kini...
Kau tampak tak bertenaga.
Kau tampak renta.
Kau tampak lelah.


Lihatlah dirimu kini..
Kemana perginya semangat itu?
Kemana perginya daya juang itu?
Kemana perginya harapanmu akan masa depan yang cerah?

Bukankah kau seringkali membagikan kata-kata penuh motivasi?
Bukankah kau seringkali membaca banyak buku?
Bukankah kau percaya akan keajaiban atas sebuah kerja keras?
Bukankah kau percaya akan pencapaian dari hasil keringatmu?

Ada apa denganmu?
Kau kelihatan murung dan cepat tersinggung..
Kau hindari pekerjaan dan asyik berleha-leha..
Kau berharap akan terjadi sebuah keajaiban..

Tangisi saja kegagalan dalam hidupmu.
Ratapi saja hidupmu yang carut marut.
Hindari saja semua penyelesaian dan jalan keluar.
Dan sesali saja ketak-beruntunganmu itu.

Sungguh, aku sudah tak mengenalimu lagi!**

Jumat, 09 Desember 2011

Tak peduli

Maafkan aku, jika kini aku tak lagi peduli padamu.
Tak lagi peduli dengan segala sesuatu menyangkut dirimu.
Berjalanlah dalam duniamu.
Berjalanlah sendiri.

Kau telah memilih.
Dan kau juga telah memutuskan.
Aku hanya mengikutinya.
Dan mengembalikannya pada tempatnya.

Aku tak sudi mengikuti permainanmu.
Tak sudi mengikuti semua rencanamu.
Aku akan menggunakan kehedak bebasku.
Dan menggunakannya hanya untuk mengikuti kehendakku sendiri.

Semua kenanganmu telah lenyap dari ingatanku.
Dan tidak kusisakan sedikit pun.
Tak akan pernah kudatangi pertemuan-pertemuan reuni kita.
Dan tak akan pernah kubicarakan lagi apa pun tentangmu.

Aku berharap tak pernah mengenalmu lagi.**

Kamis, 08 Desember 2011

Tanpa rasa

Mungkin aku telah kecewa,
Sehingga tak ada rasa sedikitpun saat kubuka kembali surat-suratku dulu.
Tak ada lagi perasaan rindu,
Atau perangkap suasana romantis yang dulu tercipta.

Aku melihatnya tanpa rasa,
Seakan melihat sesuatu yang bukan milikku.
Tak ada sedikitpun  rasa emosional yang mengusikku.
Semuanya tampak datar dan sama sekali tak bersahabat.

Aku sudah kehilangan rasa itu.
Rasa yang selalu kupertahankan sejak dulu.
Mungkin aku telah berubah menjadi orang asing?
Orang yang sama sekali berbeda dari yang pernah kau jumpai?

Kurasa sudah waktunya,
Kurobek-robek suratku menjadi serpihan-serpihan kecil.
Dan semakin kecil,
Sehingga kenangan tentangmu pun hilang tak berbekas.

Ku tutup pintu hatiku.
Dan kali ini lebih rapat dari sebelumnya.
Aku telah memutuskannya.
Meninggalkan semua kenanganku bersamamu.**

Sungai itu..

Kini sungai itu berair lagi..
Pepohonan basah menyambutku di ujung jalan..
Seakan ingin menceritakan tentang sebuah sukacita..
Sukacita yang menantiku.

Aku terpana melihat airnya yang melimpah,
Mengisi bagian-bagian sungai yang kosong,
dan tidak menyisakan tempat kering sedikitpun,
berlomba-lomba untuk sampai ke ujungnya.

Tapi, mengapa hatiku tak luluh walau sedikitpun?
Mengapa kekeringan masih melanda?
Padahal biasanya sungai ini mencerminkan suasana hatiku.
Namun kini, tak lagi demikian.

Aku menatap air yang meliuk-liuk ke sana kemari,
Membawa semua daun dan ranting yang mengikutinya tanpa daya.
Kemana perginya keriangan dan rasa rindu di hatiku?
Aku kini tak berdaya dan tanpa rasa, membiarkan semuanya berlalu..

Aku telah kehilangan gairah..
Aku telah kehilangan tempat berpijak..
Dalam kesendirian, aku dibiarkan bertanya..
Tanpa temukan jawaban apa pun.

Kini, aku telah henti bertanya.
Aku telah lelah..
Lelah mencari tahu..
Lelah berharap..

Kupandangi lagi air sungai yang masih terus mengalir deras..
Ah.. apa yang kukira berharga, kini tak lagi cukup berharga untuk dipertahankan..
Mengapa harus terus kukeraskan hati ini sekedar untuk mengetahui kabarmu?
Kau sungguh tak layak untuk mendapatkan perhatian sekecil apa pun dariku.

Kini aku melangkah pergi,
meninggalkan sungai yang telah meninggi airnya.
Masih membawa ranting dan dedaunan,
Juga lumpur yang membuat warna airnya menjadi kecokelatan. **

Minggu, 04 Desember 2011

Galau

Segalau apa hatimu kini, kasih?
Saat didera permasalahan hidup?
Kau tak lagi punya nyali untuk sekedar membela diri..
Kau tak lagi punya niat untuk memperoleh kebahagiaan barang sedikit saja.

Sudah lelahkah dirimu,
menghadapi semua hal ini?
Penatkah dirimu melihat keadaan yang tak kunjung berubah?
Sehingga untuk bertindak pun kau enggan?

Mengapa kau biarkan mereka mengacung-acungkan telunjuk di depanmu,
dan mengganggapmu tak berarti?
Mengapa kau tak membela diri?
Mengapa kau tak menjaga harga dirimu?
Ada apa denganmu?

Aku sungguh tak tega melihat keadaanmu seperti ini.
Tentu kau telah memendamnya begitu lama.
Telah lama pula kau sangkali semua keadaan ini,
dengan mengatakan semua baik-baik saja.

Aku tahu, sebenarnya kau marah.
Sebenarnya kau sedih dan terluka.
walaupun kau berusaha untuk menutupinya.
Kau ingin tampak tegar di depan mereka, bukan?

Sudahlah, tak ada yang harus kau buktikan.
Mereka harus menerimamu apa adanya.
Mendukungmu untuk bangkit dan terus maju.
Bersatu untuk membantumu.

Ah...., ingin sekali aku menghiburmu.
Menghapus air matamu.
Membalut luka di hatimu.

Ingin kudekap erat dirimu.
Hingga kau tak lagi merasa sendiri dan ditinggalkan.
Aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu
Menghormati dan mendukungmu hingga kau sanggup menyelesaikan semua kegalauan di hatimu.

Aku akan terus ada untukmu,
hingga kau mampu berdiri lagi,
hingga kau mampu menjadi orang yang layak untuk dihormati,
layak untuk dibanggakan juga layak untuk dikasihi.**

Suatu hari..

Suatu hari seorang mahasiswa ikut bersamaku menuju Perpustakaan.
Seorang mahasiswa bertubuh gempal, berkacamata dan bertutur kata halus.
Di sepanjang jalan menuju perpustakaan kami berbincang-bincang tentang dirinya,
tentang kegiatan dan harapannya.

Jika dilihat dari daerah asalnya, cara bertuturnya halus dan lembut,
sungguh berbeda dari yang ada di benakku.
Dia tidak meledak-ledak dan begitu kalem.
Kesan pertama yang begitu manis.

Tak urung, ingatanku kembali padamu.
Secara fisik tak jauh berbeda.
Begitu pula tutur kata dan sikapnya.
Seorang sahabat yang penyayang.

Sahabat, yang kepadanya kuceritakan keluh-kesahku.
Sahabat, yang kepadanya kuceritakan masalah-masalahku.
Dia yang selalu mau mendengar tentang semua ocehanku.
Ocehan yang tak mengenal ujung pangkal juga tak mengenal waktu.

Sahabat, yang kepadanya aku bisa membuka diri apa adanya.
Bahkan aku tak perlu jaim saat bersamanya.
Ah, dia begitu baik.
Tak hanya saat remaja pun hingga kini. **

  

Sabtu, 03 Desember 2011

Andai saja..

Katamu,
Andai saja waktu bisa diputar kembali,
Akan ada konser-konser musik lain yang akan kita datangi.
Akan ada lebih banyak waktu menikmati kebersamaanku denganmu.

Namun, waktu tak bisa dputar kembali.
Mengapa semua ini begitu cepat berakhir?
Padahal kita baru saja memulainya.
Memulai kebersamaan sebagai sepasang kekasih.

Dari banyak cerita, kau telah begiu lama mengharapkanku.
Bahkan sejak kita masih remaja.
Benarkah itu?
Lalu, mengapa kau begitu mudah melepasku,
untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita bicarakan?

Mengapa kau memilih diam dan menghindar?
Tak inginkah kau tahu alasan mengapa aku diam-diam menyelidikimu?
Mengapa kau begitu egois?
Membiarkanku menebak-nebak perubahan sikapmu padaku?

Andai saja waktu bisa diputar kembali,
Mungkin aku masih mendampingimu mendengarkan konser musik kesukaanmu.**

Telah kulakukan

Kugenggam gagang telepon itu kuat-kuat,
seakan tak mau kehilangan dirimu lagi walau sejenak.
Kukatakan secara perlahan keinginanku,
untuk mundur dari kehidupanmu.

Engkau tentu tak menyangkanya.
Aku pun tidak ingin seperti ini akhirnya.
Namun aku harus melakukannya.
Untuk kebaikanmu dan diriku.

Walau kau enggan melepasku.
Aku tetap tak bergeming.
Aku lelah menjadi bagian dalam dirimu.
Aku berharap kau mengerti.

Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya.
Namun kau tak memberi aku kesempatan.
Ingin kukatakan bahwa aku harus menyangkali perasaan ini.
Perasaan menyayangimu yang begitu dalam.**

Kamis, 01 Desember 2011

Tembok itu telah runtuh

Kau tentu telah lupa untuk menjaga agar tembok di hatiku tak lagi runtuh.
Sebuah tembok yang kubangun sendiri.
Tembok pertahanan diri ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi.
Tembok yang tak akan pernah dimasuki orang lain kecuali jika aku mengizinkannya.

Apakah kau juga lupa bahwa kaulah satu-satunya orang yang kuizinkan masuk?
Karena kau tak pernah menyerah,
Kau terus mengikis batu-batunya agar berhasil masuk.
Saat itu kusarankan kau untuk tidak melakukannya.
Karena kau bisa saja meruntuhkannya.

Kau berkeras bahwa kau tak akan membiarkan itu terjadi.
Kau menaiki tembok itu dengan hati-hati dan terus meyakinkanku bahwa kau akan selalu berhati-hati.
Kau berjanji untuk menjaga kekokohan tembok itu.
Kau terus membujukku dan meyakinkanku.

Tetapi apa yang terjadi kemudian?
Justru, kaulah penyebab runtuhnya tembok itu.
Reruntuhannya berserakan kemana-mana.
Namun tampaknya kau tak lagi peduli.

Pernah kukatankan kepadamu,
Jika keruntuhannya kali ini akan membuatku semakin mempertebal dindingnya,
Mengeraskannya dengan benda apa saja yang mungkin,
Untuk menghalangi orang-orang sepertimu masuk ke dalamnya.
Akan kubuat tak bisa dinaiki lagi, meski sehati-hati apapun orang tersebut.

Kini, aku tak mempercayaimu lagi.
Tak mempercayai kata-katamu lagi.
Aku tak ingin lagi mendengar segala hal tentangmu.
Bagiku, kau sudah tak ada lagi.**

Mengapa masih ragu?

Mengapa aku masih ragu?
Haruskah semuanya berakhir dengan rasa sakit seperti ini?
Berapa lama lagikah waktu yang kuperlukan untuk membalutnya?
Agar semua luka ini pulih?

Mengapa kau masih juga berkeras?
Mengapa kau masih saja berusaha?
Tak ada lagi yang bisa kulakukan.
Tak ada lagi yang bisa kurasakan.

Aku sudah tak memiliki lagi cukup waktu.
Aku sudah cukup bersabar.
Untuk berharap sedikit saja pengertianmu.
Walau itu pun tak kunjung kudapat.

Aku memang harus melakukannya.
Aku hanya perlu menyangkal rasa sayangku padamu.
Dan mengatakannya padamu dengan berbagai cara yang mungkin.
Karena hanya cara itulah yang dapat mengakhiri semuanya ini.**

Usai sudah

Tak ada lagi yang bisa kuceritakan padamu,
Karena aku sudah menutup semua buku tentangmu.
Surat-surat itu pun sudah saatnya di bumi-hanguskan,
atau dijadikan kertas pembungkus para penjual di pasar.

Sudah tak ada lagi air mataku untukmu,
Tak ada lagi kisah masa lalu tentangmu yang akan kutulis.
Semuanya sudah usai.
Sudah selesai.

Kau bahkan tak bergeming sedikit pun,
walau sudah berkali-kali kucoba untuk menghubungimu.
Berharap kau akan menghubungiku lagi?
Hmmm... aku tak terlalu yakin.

Kukeraskan hati ini untuk melakukan hal yang seharusnya sudah sejak dulu kulakukan.
Melepaskan kenanganku tentang kamu,
Membiarkanmu pergi.
Dan berhenti mengingat apa pun tentangmu.**

Harus bagaimana?

Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan kegilaan ini?
Haruskah kuhentikan kontak denganmu?
Haruskah kuhentikan mengirim pesan kepadamu?
Haruskah kuhapus nomormu dari ingatanku?

Aku tak tahu harus melakukan apa.
Karena aku tak mungkin bisa melakukan hal itu.
Walau pernah beberapa kali kulakukan,
tetapi tetap saja aku selalu ingin mengetahui kabarmu.

Tetapi berapa banyak lagi kekecewaan yang harus kutelan,
Karena kau tak kunjung menjawab?
Karena kau tak kunjung membalas?
Karena kau telah mengabaikan aku?

Bisa gila aku jika terus menerus begini..**